Tampilkan postingan dengan label Wacana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wacana. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Februari 2013

Mimpi Buruk Membuat Seseorang Meninggal Dalam Tidur


Penyakit "sindrom kematian tiba-tiba tak terduga di malam hari" (SUNDS) sangat menakutkan. Penyakit ini menyerang pria dan wanita muda, bahkan membuat orang takut tidur.
 
Asisten profesor kardiologi di Baylor College of Medicine di Houston Matteo Vatta mengatakan,"SUNDS merupakan penyakit genetik yang membuat tubuh gagal mengkoordinasikan sinyal listrik yang menyebabkan jantung berhenti."Penyakit ini menyerang orang dewasa muda, terutama keturunan Asia Tenggara."Jantung bisa normal selama beberapa waktu, kemudian berhenti mendadak,"kata Vatta. Biasanya, jantung berhenti di malam hari dan di Asia Tenggara menyebabkan lebih banyak kematian di antara laki-laki muda dibanding kecelakaan mobil. Kematian terjadi pada malam hari karena jantung berdetak lebih lemah ketika orang tidur, kata Vatta. Ketika jantung melambat saat tidur, masalah listrik yang menyebabkan SUNDS menjadilebih jelas, menyalip kemampuan tubuh mengatur jantung sendiri dan menjadikan jantung kejang mematikan.
   Terdapat beberapa teori yang menghubungkan SUNDS dengan stres yang disebabkan oleh mimpi buruk. Penelitian ilmiah menunjukkan adanya hubungan antara kematian SUNDS dan isi mimpi. Saat ini, tak ada pengobatan efektif untuk SUNDS. Tak ada alasan jelas mengapa cenderung mempengaruhi orang Asia Tenggara dibanding kelompok lain. Sindrom ini sangat sulit dideteksi, bahkan dengan membaca elektrokardiograf sekalipun, kata Vatta. Dokter di AS dan Eropa pertama kali mengetahui penyakit ini dari pengungsi yang melarikan diri dari Perang Vietnam. Pengungsi mulai menetap di AS pada akhir 1970-an dan awal 1980-an dan memunculkan cerita misterius pria sehat Asia Tenggara mati dalam tidur dan menyebabkan mereka takut untuk tidur.

Kamis, 21 Februari 2013

MISTERI KAIN KAFAN YESUS Bag I

Pada peringatan hari paskah tahun 2011 lalu, kafan Turino yang disebut-sebut sebagai kain kafan dari Yesus Kristus, dipamerkan di depan umum. Pameran tersebut bukanlah pameran yang pertama kali memamerkan kain kafan Yesus di muka umum, karena pada abad ini saja, terhitung sudah enam kali kain kafan ini dipamerkan. Pameran kain kafan Yesus ini diadakan di kota Turin, Italia.
            Kain ukuran empat meter (405 cm x 110 cm) memang smapai saat ini masih menimbulkan kontroversi. Karena pada kain terdapat gambar “cap” berwujud pria berjenggot panjang dengan posisi berdiri, tangan dan kaki disalib. Tepat pada tangan dan kaki terdapat bekas bintik-bintik ceceran darah. Bukan tidak mungkin, jika kain yang sudah ratusan tahun disimpan di Katedral Turin tersebut dipercaya oleh umat Kristen sebagai kain kafan dari Yesus Kristus setelah beliau wafat.
            Seiring dengan perkembangan jaman yang modern, para ilmuwan tertarik untuk meneliti kebenaran dari kain tersebut. Tahun 1988, salah satu dari hasil dari penelitian tersebut pernah diumumkan dihadapan publik. Penelitian tersebut menggunakan metode karbon guna mengetahui umur dari kain kafan yang sebenarnya. Berdasarkan umur karbon, kain kafan tersebut diduga dibuat pada abad pertengahan. Artinya, jauh dari hari wafatnya Yesus. Pasca penelitian itu dumumkan, sebagian ilmuwan meragukan keaslian kain kafan tersebut.
            Sepuluh tahun kemudian, Uskup Agung Turin, Katedral Anastasio Balestero kembali mengumumkan hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Indepent. Menurut Ballestrero,  berdasarkan hasil tes radiokarbon, diduga kuat kain kafan itu dibuat pada tahun 1260-1390. Meskipun demikian, Ballestrero tetap menghimbau kepada seluruh umatnya untuk tetap menghormati kain kafan tersebut. Karena misteri dibalik kain kafan tersebut masih akan terus dilacak sampai sekarang.
            Kapan terpecahkan misteri tersebut masih belum diketahui. Yang jelas pada bulan April 1998, potongan-potongan kain kafan itu pernah dibawa ke Laboratorium yang lebih canggih di Inggris, Amerika Serikat, dan Swiss. Tujuannya untuk membandingkan hasil dari penelitian yang dilakukan pertama kalinya. Meskipun demikian, hasil tes laboratorium sama saja dengan hasil tes yang sudah-sudah. Kain kafan penuh misteri itu diduga “baru” berumur 700 tahun.
            Sejak 480 tahun yang lalu, kain kafan tersebut tersimpan di kapel di Katedral Turin. Kain yang sudah berwarna kusam kekuning-kuningan diletakkan di sebuah box kaca. Penyelidikan menggunakan teknologi modern dilakukan pertama kali pada tahun 1978. Sementara debat ramai mengenai keaslian kain tersebut sudah ada sejak abad ke-14 atau ketika pertama kali kain tersebut diumumkan di hadapan publik.
            Bagi masyarakat yang meyakini bahwa kain kafan tersebut adalah kain kafan Yesus, menganggap semua penelitian itu hanyalah belaka dan tidak perlu dibesar-besarkan. Karena dari kain kafan “pria yang disalib” itu sering terpancar sebuah mukjizat yang pernah dialami oleh para peziarah. Disisi lain, pasca diteliti menggunakan teknologi modern, ilumwan meyakini gambar yang tidak begitu jelas berwujud pria yang disalib dilukis pada abad pertengahan. Karena pada saat itu pengetahuan manusia mengenai teknik dan cara mensalib masih minim.
            Yang menjadi pertanyaan adalah jika pada jaman itu pengetahuan manusia mengenai bagian-bagian tubuh manusia masih terbatas, tetapi kenyataanya gambar anatomi  dari manusia bisa sedetail mungkin. Sebab pada kain kafan tersebut ditemukan gambar bekas luka cambuk dari tentara Romawi dengan ciri Timah lancip diujung cambuk. Dari luka bekas cambukan itu tedapat ceceran darah berwarna coklat muda. Ceceran darah tersebut masih jelas terlihat.
            Ilmuwan yang pernah meneliti kain tersebut memperkirakan, bayangan bergambar pada kain kafan tersebut muncul karena  proses kimiawi, yaitu ada yang sengaja mengangkat bekas dari lekukan tubuh manusia dan supaya lebih terlihat jelas dan memsukkan warna pada bagian kiri kanan tubuh supaya tidak menggangu pandangan. Caranya dengan menyorotkan kain kafan dengan sinar dalam waktu yang singkat agar tidak tembus.

Bersambung Ke Bagian 2........................ 

Rabu, 23 Januari 2013

MANAJEMEN PERPUSTAKAAN

PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN
    Perpustakaan sekolah didirikan dengan tujuan untuk menyediakan sumber belajar bagi semua personalia sekolah agar terwujudnya tujuan kurikulum. Dengan pengertian perpustakaan sekolah harus mampu menyediakan berbagai jenis karya-karya tulis menurut kebutuhan yang ditunjuk oleh Kurikulum. 

Perencanaan kebutuhan ruang perpustakaan dan luasnya ruang perpustakaan berdasarkan tipe sekolah. 
     Kebutuhan ruang perpustakaan dan luasnya ruang perpustakaan harus didasarkan tipe sekolah. Semakin besar sekolah maka harus semakin besar pula ruang perpustakaannya bahkan semakin banyak kebutuhan ruangannya pun. Jika lahan memungkinkan boleh ruang perpustakaan itu dibangun lebih dari satu buah. Untuk tipe sekolah C, ruang perpustakaan cukup berukuran 7 m x 10 m. Type B berukuran 7 m x 15 m sedangkan sekolah type A perpustakaannya minimal 8 m x 20 m. Ruang perpustakaan harus mampu menampung jumlah siswa 20 % nya dari jumlah seluruh siswa. Ruang perpustakaan hendaknya didesain sedemikian rupa sehingga minat dan motivasi anak tumbuh dan berkembang untuk ke ruang perpustakaan.      
         Dapat juga perpustakaan tersebut berfungsi sebagai tempat rekreasi, selain untuk sumber belajar. Sudah barang tentu ruangan itu harus ditata disusun dengan bersih, indah, rapi, nyaman dan menyenangkan. Perencanaan kebutuhan jenis buku dan jumlah buku berdasarkan jumlah siswa dan pemanfaatan buku. Koleksi kebutuhan buku menurut jenis dan jumlahnya harus dipersiapkan. Macam-macam koleksi adalah: 1).Menurut fisik Media tercetak seperti buku, broklet, famlet, leaflet, dan lain-lain. Badan buku (audio visual) seperti : rekaman suara, slide, film, dan lain-lain. 
 2). Menurut isi Fiksi yaitu buku-buku ilmu pengetahuan. Buku Referensi : Tidak boleh dipinjam untuk dibawa pulang. Buku Bacaan Umum : Boleh dipinjam untuk dibawa pulang. Penambahan koleksi disesuaikan dengan jumlah siswa atau pemakai serta lokasi yang ada pada perpustakaan itu (kurang lebih 10 %). Perbandingan 10 judul buku untuk tiap siswa dianggap memadai. Untuk penambahan buku perbandingan antara buku-buku fiksi dan non fiksi adalah 35 % berbanding 65 %. Pemanfaatan buku-buku bukan hanya untuk siswa saja tetapi diharapkan semua guru dan karyawannya juga memanfaatkan adanya perpustakaan itu. 

Perencanaan sumber dana dan sumber buku untuk memperkaya koleksi. 
      Untuk dana mengelola perpustakaan dapat dipeoleh dari Dana Rutin dan Dana BP3, maupun dana sumbangan dari siswa. Misalnya setiap bulan ditentukan besarnya dana sumbangan siswa untuk menunjang perpustakaan secara berkala atau rutin. Dana tersebut dapat digunakan untuk mengelola perpustakaan seperti, pembelian perabot buku dan lain-lain selain dari dana siswa sebagai penunjang setiap sekolah ada yang membuat peraturan jika siswa menunjang buku dikenakan uang sewa untuk keamanan dan biaya perawatan. Sedangkan koleksi buku dapat bertambah dengan cara sebagai berikut : 
1). Pembelian, membeli ke toko atau penerbit 
2). Hadiah, dari instansi atau perorangan 
3). Tukar menukar dapat diperoleh dengan cara tukar-menukar antar perpustakaan lain 
4). Buku titipan diperoleh dengan cara titipan/pinjaman sementara dari perpustakaan lain. 
 5). Membuat sendiri, untuk menambah koleksi bila dapat membuat sendiri dengan cara mengumpulkan judul-judul artikel dari surat kabar/majalah, digunting-gunting menjadi kliping 
6). Sumbangan dari alumni 
         Perencanaan proses pengadaan buku Pihak sekolah setiap tahun pelajaran membuat surat permohonan untuk mendapatkan buku kepada berbagai instansi antara lain: 
1). Kantor Wilayah Depdikbud 
2). Pusat Perbukuan 
3). Museum Pusat/Nasional 
4). Pusat Pengembangan Bahasa 
5). Kantor lainnya 
        Selain dengan permohonan ke instansi tersebut diatas, pihak sekolah menganggarkan dananya dari BP3 untuk pengadaan buku tersebut, juga dari dana sumbangan dari siswa setiap bulan secara rutin. Dengan demikian diharapkan pengadaan buku makin lama makin bertambah banyak.

Perencanaan pembuatan katalog dan pengaturan operasional perpustakaan. 
      Katalog merupakan pedoman atau petunjuk seluruh bahan sumber yang tersedia disuatu perpustakaan. Kartu Katalog adalah kartu yang terbuat dari kertas manila dengan ukuran 12 1/2 cm x 7 1/2 cm, yang telah diberi lambang dibagian bawah. Jenis Katalog: 
1). Katalog pengarang 
2). Katalog judul 
3). Katalog pokok 
masalah/subjek Pengaturan operasional perpustakaan ialah Kepala Sekolah menugaskan kepada guru/karyawan untuk mengelola perpustakaan yaitu sebagai pustakawan. Tugas pustakawan ialah: 
1). Mengurus administrasi pengelolaan 
2). Mengurus administrasi pelayanan 
3). Mengurus administrasi pemeliharaan 
4). Mengurus administrasi keanggotaan 
5). Menyusun laporan/statistik dan lain-lain 
     Dalam suatu sekolah diupayakan agar pustakawan ini lebih dari 1 (satu) orang apalagi jika sekolah tersebut besar atau type A, maka mutlak tenaga pustakawan harus memadai agar pelayanan dan pengelolaan perpustakaan tersebut dapat berfungsi dengan baik. Perencanaan pendayagunaannya dan perawatan perpustakaan. Pada sebuah perpustakaan koleksi yang ada harus dirawat dan dipelihara, misalnya dengan cara: 
1). Koleksi agar tidak cepat rusak, sebaiknya dibungkus dengan pembungkus plastik. 
2). Koleksi agar tidak dimakan rayap, cara yang sederhana adalah dengan mengisi kapur barus atau disemprotkan dengan obat anti rayap. Agar pendayagunaannya dapat efektif dan efisien maka penerapan/penjelasan kepada siswa harus selalu dilakukan misalnya pada waktu upacara bendera. Jika mungkin ada jam khusus wajib kunjungan perpustakaan paling tidak jika terdapat jam kosong, karena guru tidak hadir, siswa agar disuruh belajar mandiri di ruang perpustakaan dengan diawasi o;eh pengelola perpustakaan. Dengan adanya tugas-tugas dari guru mata pelajaran maka dapat diatur agar siswa mencari sumber belajarnya dari perpustakaan. Dengan cara demikian maka pendayagunaan perpustakaan itu efektif dan efisien. Perencanaan inventaris buku dan pelaporan posisi buku perpustakaan. Perlengkapan yang harus disiapkan untuk perencanan inventaris perpustakaan adalah: 
1). Buku inventaris atau buku induk 
2). Cap Inventaris 
3). Cap perpustakaan sekolah 
4). Perlengkapan lainnya yang perlu  

ORGANISASI DAN KOORDINASI PERPUSTAKAAN 
a. Organisasi Prasarana Ruang Perpustakaan Pengelola perpustakaan adalah petugas untuk mengurus, merawat dan mengatur jalannya perpustakaan agar dapat berfungsi dengan baik dan dapat membantu sebagai sumber belajar siswa. Ruang perpustakaan hendaknya ditata sedemikian rupa sehingga setiap siswa/guru yang masuk ke ruangan perpustakaan merasa senang, aman dan nyaman. Perlengkapan diusahakan selengkap mungkin. 
b. Koordinasi Prasarana Ruang Perpustakaan Hendaknya koordinasi antara petugas perpustakaan dengan semua guru mata pelajaran diharapkan guru-guru dapat memberi tugas yang dikerjakan dengan sumber belajar dari perpustakaan. Setiap saat ruang perpustakaan harus bersih dan indah. Keamanan harus dijaga, tata tertib perpustakaan harus dapat dibaca oleh semua siswa yang masuk. Struktur organisasi, grafik keadaan buku dan lain-lain harus dipasang dengan baik. Mengadakan studi banding ke berbagai perpustakaan lain untuk menambah wawasan dan keilmuan sangat diperlukan agar kita dapat mencontoh terhadap perpustakaan yang baik.  

PELAKSANAAN DAN PENGAWASAN PERPUSTAKAAN
a. Pelaksanaan Prasarana Ruang Perpustakaan Penggunaan ruang perpustakaan akan sangat tergantung kepada kemampuan dan keterampilan tenaga pengelola perpustakaan dalam mengaturnya. Bagi keterampilan yang aktif dan kreatif, maka dapat dipastikan ruang perpustakaan benar-benar bersih, indah dan menyenangkan sehingga mengundang siswa/guru untuk selalu masuk ke ruang perpustakaan. Tenaga pustakawan harus benar-benar profesional dalam menangani perpustakaan. Perabot dan perlengkapannya harus lengkap, atau dapat menampung siswa ± 20 % dari jumlah siswa. Tata terib dan perangkat lainnya harus dipasang diruang perpustakaan demikian juga struktur organisasinya. 
b. Pengendalian/Pengawasan Prasarana Ruang Perpustakaan Ruang perpustakaan agar benar-benar berfungsi maka harus diawasi dan dikontrol dengan tata tertibsetiap saat. Pustakawan harus selalu menjaga dan melayani peminjam dengan terarur dan baik. Karena perpustakaan ini merupakan penunjang pendidikan mata pelajaran, manakala perpustakaannya berjalan dengan baik hampir dapat dipastikan pendidikannya pun baik. Tenaga perpustakaan harus cukup memadai, profesional, artinya harus sering diikutsertakan dalam penataran perpustakaan.
 
 
Copyright © 2013-Kiamat. Wahyu's Blogs - All Rights Reserved
Design by Wahyu Adhy | Powered By Blogger.com