Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Februari 2013

KYAI HAJI SAMANHOEDI, PAHLAWAN KEMERDEKAAN Kaya tetapi tidak memiliki rumah Kekayaannya habis untuk berjuang melawan penjajah


         Pada era 1900-an, Kyai Samanhoedi sudah menjadi orang yang terpandang dan kaya raya. Perusahaan batik yang dirintis dari kampung Laweyan Solo dapat berkembang pesat, mempunyai cabang di Surabaya, Banyuwangi, Bandung dan Tasikmalaya. Bahkan sudah sampai ke Negeri Belanda. Pada mulanya memang hanya membuat batik tulis halus asli buatan tangan yang menggunakan canthing itu. Dikarenakan batik halus asli itu pembuatannya membutuhkan waktu yang relatif lama, sedangkan kebutuhan pasar membanjir, maka muncullah ide. Bagaimana caranya memproduksi batik dengan cara yang lebih cepat dan mutunya tetap disukai pasar? Akhirnya untuk mengatasi hal itu dilakukan dengan memproduksi batik dengan teknik batik cap. Cara ini bisa memproduksi batik secara besar-besaran, untuk mencukupi pesanan dari berbagai cabang-cabang yang tersebar di Jawa Timur sampai Jawa Barat, hingga sampai wilayah Hindia Belanda.

Haji Samanhoedi Pahlawan Kemerdekaan Nasional
            Siapakah pengusaha batik yang memunculkan adanya Revolusi Batik dan kaya raya dari Laweyan Solo tadi?  Beliau adalah Haji Samanheodi sang pahlawan kemerdekaan nasional. Ditetapkan dengan Kepres Presiden Soekarno Nomor 540 tanggal 29 Nopember 1961. Lalu, bagaimana bisa pengusaha batik secara tiba-tiba menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional? Berikut Ceritanya : Memang Haji Samanhoedi disamping mempunyai filing bisnis yang kuat dan sukses, ternyata juga mempunyai jiwa seorang pejuang. Ketika usaha batiknya mengalami masa kejayaan, terkenal sampai ke luar negeri. Haji Samanhoedi mendirikan sebuah organisasi yang dirintis dari perkumpulan “Rondha Kampung” yang bernama “Reksa Rumeksa” hingga menjadi organisasi dengan nama Sarekat Islam (SI) atau ada yang menyebut dengan SDI (Sarekat Dagang Islam) tahun 1912. Pada saat itu usia Haji Samanhoedi adalah 34 tahun, lahir di Laweyan Solo tahun 1868.

Dalam Pengawasan Pihak Belanda
            SI berkembang dengan pesat meskipun pada saat itu masih Indonesia masih terjajah. SI sudah berani mengadakan konggres I (di Solo tanggal 25 Maret 1913), Haji Samanhoedi terpilih menjadi Ketuanya. Dengan 48 cabang di berbagai kota, satu cabang memiliki anggota kurang lebih 200.000 orang bertuliskan aksara Jawa. Dengan maksud agar sulit dibaca oleh kaum penjajah. Sarekat Islam semakin pesat, Haji Samanhoedi juga sering bertemu dengan tokoh-tokoh pergerakan Indonesia seperti Haji Agus Salim, Ki Hajar Dewantara, H.O.S. Tjokroaminoto, dan tokoh-tokoh pergerakan lainnya. Disini, Haji Samanhoedi mengajak kaum pribumi untuk bersatu, berjuang bersama melawan penjajah, menuju Indonesia yang merdeka. Seiring dengan berjalannya waktu, lama-kelamaan aksi provokasi ini diketahui oleh Belanda. Pada saat itu Gubernur General Belanda William Frederick Idenburg (1909-1916) memerintahkan supaya SI-SI cabang mendirikan AD/ART sendiri-sendiri (local) pisah dengan AD/ART SI pusat yang ada di Solo. Dengan demikian gerak gerik SI dapat dikontrol oleh Belanda. Usaha dari Belanda pun berhasil, terjadi perpecahan antara CSI (Central Sarekat Islam) dan SI-SI lokal. SI lokal akhirnya dapat dikendalikan oleh Belanda.

Bintang Maha Putera dari Bung Karno
            Untuk menghormati jasa dan perjuangan Haji Samanhoedi dalam mengusir penjajah dari bumi pertiwi melalui organisasi. Pemerintah telah memberikan penghargaan Bintang Maha Putra kepada Haji Samanhoedi yang diberikan langsung oleh Presiden Soekarno, di Istana Merdeka Jakarta pada tanggal 15 Februari 1960, diterima oleh wakil keluarga Haji Samanhoedi yaitu Soekamto Samanhoedi, putera dari Kyai Haji Samanhoedi.

Hadiah berupa rumah dari Bung Karno
            Meskipun Haji Samanhoedi dengan usaha dagangnya yang sukses, tetapi beliau tetap menjadi pribadi yang sederhana. Suka membantu terhadap siapa saja yang membutuhkan. Uang hasil usahanya sedikit demi sedikit habis hanya untuk membiayai perjuangannya, untuk dana driah, Haji Samanhoedi merupakan pribadi yang dermawan, berjiwa sosial tinggi dan tidak ingin melihat bangsanya sengsara. Hingga akhirnya hartanya ludes sampai tidak punya tempat tinggal. Melihat kondisi ini, Bung Karno tergerak untuk memberikan hadiah rumah hasil rancangannya sendiri kepada Haji Samanhoedi, sebagai perintis kemerdekaan yang bertempat di Kampung Laweyan Solo.
            Disini ada tamabahan sedikit mengenai pengalaman Haji Samanhoedi ketika pergi Haji tahun 1904. Wiryowikoro (nama dari beliau sebelum naik haji) ketika berada di Jeddah setelah dari Mekkah, bermimpi lidahnya menjadi panjang hingga membelit seluruh dunia. Menurut ahli tafsir, mimpi yang diceritakan oleh Haji Samanhoedi, memberikan petunjuk bahwa nantinya Kyai Haji Samnhoedi akan menjadi pemimpin yang berpengaruh di negaranya.
            Berikut biografi singkat dari Kyai Haji Samanhoedi : Lahir di Solo tahun 1868. Pendidikan : Madrasah (SR) 6 tahun, mengaji di pesantren Sidosermo Surabaya. Umur 13 tahun HIS di Madiun. Wafat di Klaten 28 Desember 1956 dan dimakamkan di Kampung Mbanaran, Laweyan, Sukoharjo.

Kamis, 21 Februari 2013

JUGUN IANFU : Kisah Kelam Para Wanita Indonesia Pada Masa Penjajahan Jepang


            Seperti yang tertulis diatas, Jugun Ianfu yang artinya wanita penghibur pada masa pendudukan Jepang di Indonesia.  Jugun Ianfu ini merupakan sebagian kisah sedih dari para wanita Indonesia pada masa penjajahan Jepang yang dipaksa harus menuruti nafsu bejat para tentara Jepang.
            Ketika pada perang dunia II, Jepang memang bisa dikatakan telah menguasai Asia Timur Raya, Sedangkan yang dijadikan Jugun Ianfu sebenarnya bukan hanya  wanita Indonesia saja, tetapi ada juga wanita cina, Taiwan, Filipina, Melayu, Korea, dan Vietnam. Dalam kenyataanya, di Semarang pernah terjadi peristiwa yang disebut “Peristiwa Semarang”, pada saat itu para nyonya Belanda dari berbagai tangsi tahanan, dikumpulkan dan dijadikan “pelanyahan” untuk melayani nafsu serdadu Jepang.
            Karena peristiwa Semarang, wartawati Hillde Janssen yang dibantu Fotografer Jan Banning, melacak keberadaan wanita Indonesia yang dulu pernah menjadi Jugun Ianfu. Janssen melacak jejak para Jugun Ianfu dan mencari Informasi dengan cara masuk ke pelosok-pelosok pedesaan, guna mengadakan penelitian, megambil gambar dan wawancara. Diperkirakan terdapat 50.000-200.000 Jugun Ianfu, 5000 sampai 20000 diantaranya berasal dari Indonesia. Hasil foto yang diambil oleh Jan Banning dipamerkan di Eramus Huis (Pusat Kebudayaan Belanda) Jakarta.
            Sepanjang sejarah dunia, hanya Jepang yang menyediakan wanita penghibur untuk serdadu tentaranya. Para serdadu yang butuh wanita pastinya tidak diberikan secara gratis, mereka harus membayar sesuai dengan harga yang sudah ditetapkan. Uang tersebut tentunya tidak diserahkan kepada wanita yang melayaninya.
            Sebagian dari wanita Jugun Ianfu sekarang memang sudah berusia senja, tetapi peristiwa itu masih tetap diingat sepanjang hayat. Salah satunya, Wainem, wanita kelahiran Karanganyar 1925 ini, masih ingat benar ketika harus dipaksa melayani para tentara Jepang, dan setelah itu di tinggal begitu saja. Menurutnya ketika masih menjadi Jugun Ianfu, setiap hari diperiksa oleh Dokter Jawa, tetapi dimandhori oleh Dokter Belanda. Yang ketahuan hamil dipulangkan bahkan disuruh untuk menggugurkan kandungannya. Memang sungguh penganiayaan yang tidak berperikemanusiaan. Itulah sebagian kisah kelam dari para Wanita Indonesia yang harus dipaksa menjadi pelayan nafsu para Tentara Jepang.

Sabtu, 16 Februari 2013

Sekilas Mengenai Candi Tikus


Candi Tikus terletak di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur. Candi Tikus merupakan bangunan pertitaan. Hal ini terlihat dari adanya miniatur candi di tengah bangunannya yang melambangkan Gunung Mahameru, tempat para dewa bersemayam dan sumber segala kehidupan yang diwujudkan dalam bentuk air mengalir dari pancuran-pancuran/jaladwara yang terdapat disepanjang kaki candi. Air ini dianggap sebagai air suci Amrta, sumber segala kehidupan.

Sejarah Penemuan Candi Tikus
            Candi Tikus ditemukan pada tahun 1914 oleh seorang penduduk yang kemudian dilaporkan kepada Bupati Mojokerto saat itu, yaitu R.A.A. Kromodjojo Adinegoro. Penemuan tersebut diawali dengan laporan penduduk bahwa di daerah tersebut terjangkit wabah tikus yang bersarang di sebuah gundukan. Ketika gundukan dibongkar ternyata di dalamnya terdapat sebuah candi yang kemudian disebut Candi Tikus. Karena sejarah penemuan inilah hingga sekarang banyak petani, baik dari daerah sekitar Mojokerto maupaun luar kota yang sawahnya diserang hama tikus datang ke tempat ini untuk memperoleh air candi yang dipercaya dapat menngusir hama tikus.

Struktur Bangunan Candi Tikus
            Bangunan Candi Tikus berdiri pada permukaan tanah yang lebih rendah dari daerah sekitarnya, yaitu kurang lebih sedalam 3,5 m. Oleh karena itu, untuk mencapai lantai dasar candi harus menuruni tangga masuk yang berada di sisi utara yang merupakan pintu masuk candi. Orientasi Candi Tikus adalah menghadap ke utara dengan azimut 200°. Candi Tikus berdenah bujur sangkar dengan ukuran 22,5 x 22,5 m, serta tinggi dari lantai sampai puncak candi adalah 5,20 m. Bahan bangunannya didominasi oleh bata, sedang batu andesit digunakan untuk pancurannya. Dinding Candi Tikus dibuat berteras untuk menahan tanah sekitarnya. Pada dinding bagian bawah serta batur candi inilah terdapat pancuran yang berjumlah 19 buah, pancuran tersebut berbentuk padma/lotus dan makara. Pada dinding utara bagian bawah di kiri kanan tangga masuk terdapat bilik berukuran sama. Pintu masuknya mempunyai tangga, terletak di dinding sebelah selatan. Dinding utara kolam terdapat pancuran masing-masing berjumlah 3 buah.
            Bangunan induk terletak di tengah, kakinya menempel pada teras bawah dinding selatan. Struktur bangunan induk terdiri dari kaki, tubuh dan atap. Kaki candi berdenah segi empat berukuran panjang 7,75 m, lebar 7,65 m, dan tinggi 1,5 m. Tubuh candi berdenah bujur sangkar berukuran 4,8 x 4,8 m. Di sisi barat, utara dan timur terdapat menara semu yang menempel pada bagian luar tubuh candi, masing-masing berjumlah 5 buah. Di atas tubuh candi terdapat 4 buah menara berukuran 0,84 x 0,80 m, yang terletak pada setiap sudutnya. Menara yang paling besar berdiri di tengahnya dengan ukuran 1 x 1,04 m serta tinggi 2,76 m. Menara-menara ini melambangkan Gunung Mahameru sebagai pusat makro kosmos.  

Senin, 11 Februari 2013

Sekilas Tentang Tokoh Pendidikan Indonesia



Ki Hadjar Dewantara, lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889. Wafat di Yogyakarta, 26 April 1959. Ki Hadjar Dewantara selain aktivis pegerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, dan politisi, juga sebagai pelopor pendidikan untuk kaum pribumi. Ki Hadjar juga sebagai pendiri Perguruan Taman Siswa, sebuah lembaga yang memberikan kesempatan kepada kaum pribumi agar dapat memperoleh hak pendidikan yang sama dengan kaum priyayi atau orang-orang Belanda.
            Hari lahirnya Ki Hadjar Dewantara, nantinya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional dengan semboyan Tut Wuri Handayani yang kini menjadi slogan Departemen Pendidikan Nasional. Namanya juga menjadi nama sebuah kapal perang Republik Indonesia, KRI Ki Hadjar Dewantara. Selain itu juga menjadi gambar pada uang Rp.20.000.

Awal Karir
            Soewardi berasal dari lingkungan keluarga Kraton Yogyakarta. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di ELS (Sekolah Dasar Eropa/Belanda), melanjutkan di sekolah STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera) tetapi tidak sampai tamat, dikarenakan sakit yang dideritanya. Selanjutnya, Soewardi bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar, diantaranya : Sedioutomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara.Soewardi adalah seorang penulis yang sangat berbakat. Tulisannya begitu komunikatif, tajam, dengan semangat antikolonial.

Aktivis Pergerakan
            Selain tekun sebagai wartawan muda, Soewardi juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Mulai dari berdirinya Organisasi Budi Utomo tahun 1908, Soewardi aktif dalam seksi propaganda untuk mensosialisasikan dan menggugah kesadaran bangsa Indonesia (utamanya Jawa) yang pada saat itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Soewardi muda juga menjadi anggota Insulinde, organisasi multietnik yang didominasi kaum Indo yang memperjuangkan nasib bangsa Indonesia di Hindia Belanda. Atas pengaruh Ernest Douwes Dekker, lalu mendirikan Indische Partij. Termasuk mengajak Soewardi dalam pendiriannya.

Als ik eens Nederlander was
            Ketika pemerintah Hindia Belanda mempunyai niat mengumpulkan sumbangan dari warga, termasuk pribumi untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis di tahun 1913, timbul reaksi kritis dari kalangan nasionalis, termasuk Soewardi. Kemudian Soewardi menulis “Een voor Allen maar Ook Allen voor Een” atau “ Satu untuk Semua, tetapi semua untuk satu” , tetapi tulisan dari Ki Hadjar Dewantara yang paling terkenal adalah : “Seandainya aku seorang Belanda” (judul asli: “Als ik eens Nederlander was”), yang dimuat di surat kabar De Expres pimpinan Douwes Dekker tahun 1913. Isi dari artikel tersebut terbilang sangat “tajam” bagi para petinggi Hindia Belanda. Beberapa petinggi Belanda seakan-akan tidak percaya kalau itu adalah tulisan Soewardi. Karena tulisan itu, Soewardi ditangkap atas persetujuan Gubernur Jenderal Idenburg dan dibuang di Pulau Bangka. Pada waktu itu Soewardi berusia 24 tahun. Meskipun Soewardi diasingkan, Mitra keduanya Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo (Tiga Serangkai) protes. Dan akhirnya ketiganya juga diasingkan ke Negeri Belanda.
Dalam Pengasingan
            Dalam pengasingannya di Negeri Belanda, Soewardi aktif dalam organisasi para pelajar asal Indonesia, Indische Vereeninging (Perhimpunan Hindia). Disana beliau merintis gagasannya dalam memajukan kaum pribumi melalui belajar hingga mendapatkan Europeesche Akte, yaitu sebuah ijazah pendidikan bergengsi. Yang nantinya sebagai batu loncatan dalam mendirikan sebuah lembaga pendidikan. Dalam studinya, Soewardi terinspirasi dari tokoh-tokoh barat, seperti Froebel dan Montessori, dan pergerakan pendidikan India, Santiniketan, oleh keluarga Tagore. Pengaruh-pengaruh itulah yang menjadi dasar dalam mengembangkan sistem pendidikannya.

Taman Siswa
            September 1919, Soewardi kembali ke Indonesia. Pengalaman mengajar di sekolah milik saudaranya inilah dijadikan sebagai acuan dalam mengembangkan konsep mengajar di sekolah yang didirikan pada tanggal 3 Juli 1922. Nationaal Onderwijs Institut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa. Pada saat itu, Soewardi berusia genap 40 tahun. Menurut perhitungan Jawa, lalu mengganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara dan beliau juga tidak mau mencantumkan gelar kebangsawanan pada nama depannya. Dengan maksud agar beliau dapat lebih dekat dengan rakyat. Sampai sekarang semboyannya masih melekat pada sistem pendidikan di Indonesia, yaitu Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.

Pengabdiannya Setelah Indonesia Merdeka
            Pada kabinet Repeublik Indonesia yang pertama, Ki Hadjar Dewantara diangkat menjadi Menteri Pendidikan Indonesia yang pertama. Tahun 1957 Ki Hadjar mendapatkan anugerah gelar Dhoktor kehormatan (doktor honoris causa Dr H.C) dari Universitas Gadjah Mada. Untuk menghormati jasa-jasanya dalam bidang pendidikan. Beliau juga mendapat gelar sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Dan tanggal 2 Mei ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional (Surat Keputusan Presiden RI No. 305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959)

Jumat, 08 Februari 2013

Candi Mendhut : Ditemukan dlam keadaan tertutup rumput Ilalang


            Candi Mendut yang terletak di sebelah utara dari ketiga candi disekitar Borobudur, dapat dikatakan merupakan pintu masuk menuju Candi Pawon dan Candi Borobudur. Bertempat di Desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang.
            Pintu masuk pada Candi Mendut berbeda dengan Candi-Candi lainnya, menghadap ke barat. Sementara pada candi-candi lainnya yang terdapat di Jawa kebanyakan pintu candi menghadap kesebaelah timur. Sampai sekarang, masih menjadi misteri yang belum terpecahkan mengenai kapan Candi tersebut berdiri.
            Beberapa ada yang menghubungkan denagan kelahiran Sang Budha. Kemungkinan hal tersebut dikaitkan  dengan Sang Budha dalam menyebarkan Agama Budha di Tanah Jawa. Pintu yang menghadap kiblat, dapat juga diartikan sebagai simbol keinginan dari pendiri candi, berkaitan dengan tempat ketika Sang Budha pertama kali menerima wahyu di Taman Kijang.
            Para ahli purbakala, sampai sekarang juga masih ragu mengenai kapan berdirinya Candi tersebut. Ada yang mengatakan , Candi Mendut dibangun ketika jaman pemerintahan Raja Indra, dari dinasti Syailendra abad ke 8 atau 9. Ada juga yang mengatakan Candi Mendut dibangun sebelum Candi Borobudur. Hal tersebut masih meragukan, karena memang belum diketemukan tulisan atau prasasti yang menceritakan mengenai Candi Mendut.
            Menurut Sejarah, sekitar tahun 1836, semua bagian bangunan Candi ditemukan dalam keadaan tertutup rumput Ilalang dan pasir letusan Gunung Merapi pada waktu itu, kecuali bagian atap Candi. Candi tersebut ditemukan secara tidak sengaja. Bisa dimaklumi, karena penyebaran penduduk yang belum merata, sedikitnya penduduk yang menempati daerah sekitar penemuan Candi, keadaan tanah yang gersang dan kering, membuat sedikitnya orang yang bermukim di wilayah itu.
            Setelah candi tersebut digali dan dibersihkan dari rumput ilalang, sudah banyak ditemukannya batu-batu asli dari sekitar candi, meskipun belum semuanya. Sekitar tahun 1887, Candi mengalami pemugaran untuk pertama kalinya, bagian yang diperbaiki adalah kaki candi sampai badan candi. Meskipun bisa dikatakan perbaikan tersebut masih jauh dari harapan, karena banyaknya halangan dalam pemugarannya.
            Selanjutnya pada tahun 1908, oleh Van Erp (Belanda), Candi tersesbut kembali diperbaiki bersamaan dengan Candi Borobudur. Pemugaran yang kedua kali ini juga tidak berjalan seperti yang diharapkan dan sempat berhenti total, dikarenakan faktor biaya yang memang pada saat itu Belanda juga membutuhkan dana yang cukup besar untuk memakmurkan negaranya, sehingga tidak mampu untuk membiayai pemugaran candi. Setelah kurang lebig 38 tahun, akhirnya pemugaran Candi dilanjutkan lagi.
Tatanan dan Relief Candi
            Tatanan atau susunan Candi Mendut tak beda jauh dengan candi-candi lainnya, terdiri dari bagian kaki candi, badan candi dan puncak candi. Pada bagian Kaki Candi, terdapat “selasar” (jalan untuk mengelilingi candi). Selasar tersebut dibuat agak luas, supaya pengunjung dapat melihat candi secara jelas dan dekat. Pada dinding candi juga terdapat ornamen-ornamen yang jumlahnya ada 31 ornamen. Ornamen pada dinding Candi berupa bunga puspa, bunga teratai, motif hewan dan arca-arca yang semuanya memiliki makna atau simbol tersendiri.
            Pada bagian kanan pintu masuk atau ruang candi, terdapat relief Kuvera/Yasaka Panchika/Atavika. Dalam relief tersebut digambarkan seorang pria yang dikelilingi oleh anak-anak, memakai busana yang menggambarkan bahwa pria tersebut adalah seorang bangsawan. Dusduk diatas tempat yang tinggi dengan posisi kaki kanan bertumpu pada kaki kanan. Penggambaran Anak-anak yang sedang bermain, memanjat pohon dan memetik buah-buahan. Dibawahnya ada sebuah kendhi yang penuh dengan uang. Kuvera, yang juga disebut dengan dewanya kekayaan. Selain itu juga ada Yaksa Panchika atau Atavika, yang merupakan raksasa pemakan manusia, tetapi setelah bertemu Sang Budha bertobat dan menjadi pengayom bagi anak-anak.
            Di bagian kiri arah kamar, ditemukan relief Hariti yang sedang duduk memangku anaknya. Dalam relief tersebut digambarkan wujud seorang wanita yang juga memakai pakaian bangsawan dengan dikelilingi oleh anak-anak yang bermain dan memetik buah-buahan. Dalam mitologi agama Budha, Hariti merupakan raksasa yang juga suka makan manusia, tak beda jauh dengan Kuvera, bertobat setelah bertemu dengan Sang Budha dan akhirnya menjadi pengayom bagi anak-anak. Figur pengayom anak-anak, juga dapat ditemukan di Bali dengan sebutan Men Brayut.
            Pada badan Candi, juga terdapat relief Bodhisattva Avalokitesvara dan Dewi Tara. Relief Avalokitesvara digambarkan pada bagian tengah duduk diatas padmasana. Di sebelah kanannya cacti dan istrinya yaitu Dewi Tara. Dibawahnya digambarkan sebuah kolam yang penuh dengan bunga teratai. Dalam Mitologi Budha, relief tersebut memuat tentang cerita kelahiran Dewi Tara di Madyapada.
            Sang Budhisattva Avalokitesvara sedih, ketika mengetahui keadaan manusia di dunia. Kesedihannya hingga meneteskan airmata yang akhirnya berwujud menjadi sebuah kolam atau telaga yang penuh dengan bunga teratai . Diatas batang dan daun tersebut muncul Dewi Tara, yang menjadi penolong umat manusia dari jurang kesengsaraan.
            Relief yang menghadap ke timur pada badan Candi, yaitu terdapat relief Bodhisattva, yang digambarkan bertempat di  tempat teratas memakai pakaian bangsawan. Di belakang kepala terdapat Prabha, yaitu cahaya dewa. Mempunyai empat tangan, tangan kiri bagian belakang memegang kitab, tangan kanan bagian belakang memegang tasbih. Tangan kiri depan ada batang bunga teratai yang mekar dari sebuah kendhi. Tangan bagian depan menggambarkan sikap vara-mudra.
            Pada badan candi sebelah utara, terdapat relief tentang dewi Tara atau Cunda. Pada relief disebutkan, Dewi Tara digambarkan sedang duduk di tempat yang tinggi. Di sebelah kanan kirinya digambarkan dua orang pria.
            Pada bagian kanan pintu masuk Candi Mendut, terdapat relief Sarvanivaranaviskhambi. Pada relief, Sarvanivaranaviskhambi digambarkan dengan posisi berdiri. Pakaian yang dikenakan adalah pakaian bangsawan. Di belakang kepala juga terdapat prabha. Atap candi terdiri dari tiga tingkatan.
           

Minggu, 03 Februari 2013

SEJARAH : Persetujuan Naskah Linggarjati

  • PARTAI & ORMAS YANG PRO NASKAH 
  • SEMANGAT BANGSA UNTUK MERDEKA 100 % 
          Kaum kolonialis Belanda sebenaranya enggan untuk menyetujui perjanjian Linggarjati. Apalagi harus menandatangani perjanjian tersebut. Lima tahun, Kekayaan Negeri Belanda dikuras habis-habisan oleh Hitler (Jerman). Tak sedikit pula Tentara Belanda yang dijadikan serdadu militer yang maju ke medan perang membela Jerman. Kas negara dikuras habis oleh pihak Jerman. 
       Setelah Jerman dikalahkan oleh tentara sekutu, Belanda yang kian terpuruk kembali berambisi untuk bisa bangkit lagi. Jepang yang juga sudah kalah dari pihak Sekutu dan sudah kehilangan tanah jajahannya, dimanfaatkan oleh Belanda untuk kembali menguasai tanah jajahan di Indonesia yang terkenal subur makmur gemah ripah loh jinawi. Kesempatan itu harus tetap dipertahankan untuk memperbaiki perekonomian di Negeri Belanda. Profesor Carl Maria Romme, dari fraksi Partai Rakyat Katolik (Katholieke Volkspartij) berpidato di tengah parlemen pada tanggal 16 Desember 1946 “ Indonesia dan Belanda tidak bisa dipisahkan”. Untuk itu, nasib Bangsa Indonesia tergantung pada nasib Belanda. 
       Menurut Profesor Romme “ Tindakan kita tidak salah, kekusaan di Indonesia dikembalikan lagi ke pihak Belanda. Disana kita mempunyai kekuatan yang cukup besar. Untuk bangsa Indonesia kita akan memberikan pengertian, kita tidak akan mengganggu semangat Nasionalisme. Meskipun kita dapat berupaya lain. Dengan catatan, bahwa yang disebut merdeka 100 % itu tidak ada sama sekali. Itu hanyalah mimpi belaka. Tuntutan merdeke 100 % dari bangsa Indonesia itu sudah kebablasan”. Seperti itulah gagasan pihak kolonialis Belanda pada saat itu. Profesor Romme meminta kepada pemerintah Belanda agar kekuasaan militer di Indonesia ditambah, untuk menjaga keamanan di wilayah tersebut. Mengenai pihak-pihak dari Republik sendiri yang pro dengan naskah yaitu ada Partai Sosialis, PKI, disusul Partai Buruh Indonesia. Ada juga Partai Nasional Indonesia Arab di Palembang. Pengurus besar Partai Katolik Republik Indonesia dala sidangnya 23 Nopember 1946 di Solo mengatakan bahwa dapat menyetujui perjanjian dengan caatatan, supaya ditambah protokol (keterangan-keterangan) agar lebih jelas lagi. Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia) pro dengan naskah dengan catatan semua penggerak pemerintahan berasal dari tenaga-tenaga revolusioner dan progresif. Sikap dari Pesindo ini ditetapkan oleh Dewan Pusat Pesindo dan disahkan pada Kofrensi Kilat Pesindo 4 Desember 1946 di Madiun. Sobsi (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia) mengatakan “ Pro atau tidak, tetpa berjuang terus. Karena perjuangan kita belum berakhir. 
             Sobsi yang merupakan gabungan (fusi) antara GASBI (Gabungan Sarekat Buruh Vertikal) yang juga merupakn gerakan kaum buruh PKI. Selanjutnya ada Barian Laskar Tani Indonesia yang juga pro Naskah. Laskar Rakyat (seluruh Jawa dan Madura) pimpinan Ir. Sakirman dalam rapatnya di Solo 1 Desember 1946 menyatakan pro Naskah dengan catatan : Pemerintah harus dapat menyelaraskan kondisi dan kepentingan-kepentinagn nasional. Susunan ekonomi, lebih-lebih soal distribusi dan produksi diatur negara untuk kepentingan Revolusi. Kesatuan komando beserta kelengkapan kelaskaran dan ketentaraan harus ditangani Negara. 
           Selanjutnya ada Indonesia Merdeka yaitu sebuah organisasi bagi golongan warga negara Indonesia, keturunan Indo-Belanda di Yogyakarta yang juga pro dengan naskah persetujuan Linggarjati. Surat kabar Merdeka edisi Solo 11 Desember 1946 yang memuat mengenai sikap Sarekat Mahasiswa indonesia yang juga pro rakyat. Bisa dibayangkan, pada waktu itu kondisi wilayah Republik Indonesia bisa dikatakan semrawut. Perekonomian memburuk akibat blokade Belanda, dan sejumlah faktor lainnya yang juga menambah kondisi kian memanas. Akan tetapi, dengan semangat perjuangan dari bangsa Indonesia, akhirnya dapat meraih kemerdekaan yang diimpikan. Merdeka 100 % !!!!

SEJARAH : Dai Too-a Senshoo = Perang Asia Timur Raya

  • Musyawarah Persuratkabaran Asia Timur Raya
  • Propaganda dan Sensor Jepang di Pulau Jawa
   Seperti apakah pentingnya propaganda (termasuk pers, persuratkabaran), hingga diadakannya Musyawarah Persuratkabaran Asia Timur Raya di Tokyo pada bulan November 1943. Lebih dari 40 wartawan dari seluruh penjuru Asia Timur Raya (Tiongkok, Manchukuo, Thailand, Filipina, Hongkong, Malaka, Sumatera, Kalimantan dsb) menghadiri undangan musyawarah tersebut, sementara dari Dai Nippon sendiri diwakili 40 wartawan. 
        Dilihat dari fakta diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Jepang mempunyai niat yang baik dalam mempersatukan Indonesia, meski sengaja memisah-misahkan Pulau satu dengan pulau lainnya di Nusantara. Dapat diketahui bahwa dalam Musyawarah itu yang menjadi perwaklian dari Sumatera adalah Djamalauddin Adinegoro, pemimpin Surat Kabar Sumatera Shimbun. Dari tanah Jawa ada Raden Toekoel Soerohadinoto (Surat Kabar Suara Asia Surabaya), perwakilan Kalimantan A.A. Hamidhan (Borneo Shimbun), dari Sulawesi Manai Sophan serta Ambon Ot Pattimbau. Tetapi yang menjadi pokok utama dalam musyawarah adalah membahas tentang bagaimana caranya memberikan penerangan terhadap rakyat di Asia Timur di Negaranya masing-masing dalam memajukan kesejahteraan dan mempererat hubungan antar negara di kawasan Asia Timur Raya. 
         Pada masa pendudukan Jepang, semua kegitan sangat dibatasi, termasuk juga dengan kebebasan Pers. Jumlah koran yang terbit di Jawa setiap hari tidak boleh lebih dari 80.000 lembar dengan hanya terdiri dari 2-4 halaman. Selain koran, terdapat juga majalah Pandji Pustaka (Balai Pustaka) yang semula terbit mingguan menjadi terbit tengah bulan meskipun kelanjutannya ditutup penerbitannya, hingga muncul lagi Majalah Indonesia Merdeka (Djawa Hokokkai), ada lagi Surat Kabar Djawa Baroe dan Soeara Masjoemi yang diperuntukkan untuk komunitas Islam. Untuk tentara Jepang sendiri juga disediakan Surat Kabar Djawa Shimbun. Itulah beberapa surat kabar yang terbit di Jawa, sementara surat kabar yang terbit di luar jawa lebih sedikit daripada yang terbit di Jawa. Selain itu juga pembacanya juga lebih sedikit dengan persediaan kertas yang sedikit pula. 
            Pemerintah Jepang sendiri tidak membiayai terbitnya koran-koran tersebut. Semuanya dipercayakan kepada perusahaan penerbitan Jepang. Seperti Asahi Shimbun, Mainichi Shimbun dan Yomiuri Shimbun. Dengan redakturnya dari orang-orang Indonesia sendiri, sementara untuk pengawas dan pemimpinnya (shidookan) tetap dari Jepang. Bukan hanya Koran saja yang diawasi Pemerintah Jepang, Radio NIROM (Ned. Indische Radio Omroep Maatschappij) milik pemerintah Hindia Belanda dan PPRK (Perserikatan Perhimpunan Radio Ketimuran) yang dikelola bangsa Indonesia juga tidak luput dari pengawasan pihak Jepang, Oleh Pemerintah Jepang dijadikan satu dan diberi nama Radio Hoosoo Kyoku, Kantor Radio Jepang. Dan untuk orang-orang Jepang sendiri, setiap hari ada siaran warta berita berdurasi satu jam. Untuk bangsa Indonesia, setiap setengah jam ada siaran berita dengan bahasa Jepang sederhana berdurasi lima menit. Selain itu ada juga siaran berbahasa Jawa, Sunda, Madura. Karena pada saat itu masih banyak rakyat Indonesia yang belum mempunyai pesawat radio, maka disetiap keramaian, seperti Alun-Alun, Stasiun, dan tempat-tempat ramai disediakan panggung yang diisi dengan Radio, dengan catatan rakyat dilarang keras untuk mendengarakan siaran Radio musuh Jepang. Jika ada rakyat yang kedapatan mendengarkan Radio musuh, langsung diseret ke Kenpei, disiksa sampai babak belur. Maka dari itu, pada waktu kepemilikan Radio harus terdaftar dan disegel, sehingga pendengar tidak bisa mendengarkan gelombang lain selain gelombang Radio yang telah mendapat izin pemerintah Jepang. 
           Selain Koran dan Radio, Bioskop juga diawasi oleh pemerintah jepang dengan film yang boleh diputar seputar film-film yang dibawa tentara Jepang. Sedangakan film-film buatan Negara musuh samasekali tidak diperbolehkan untuk diputar. 
         Untuk persuratan, selama tiga bulan terakhir, rakyat tidak bisa berkirim surat dari satu kota ke kota lain, yang jelas jalur kota Jakarta-Bandung, Jogja dan Surabaya lumpuh total akibat Jembatan Kereta yang rusak, dikarenakan hal itu, perbaikan baru dilakukan setelah 2-3 bulan pasca perang di Jawa. Baru sekitar bulan Oktober 1942 jawatan pos di Jawa bisa berkarya dan bekerja secara normal. Meskipun ada kebijakan dari pemerintah Jepang yang berisi : Surat harus ditulis di Kartupos dan menggunakan huruf Kanji. Semuanya disensor di Kantor Pos terlebih dahulu sebelum akhirnya dikirim ke tujuan. 
           Semua itu dilakukan Pemerintah Jepang hanya untuk mempertahankan rezimnya di tanah jajahannya. Maka dari itu, Sedenbu (Bagian Propaganda) sangat menonjol pada saat itu. Akan tetapi, meskipun sensor pers dan media sangat ketat, wartawan Indonesia masih bisa membuat pihak Jepang memanas dengan munculnya rubrik-rubrik yang menyindir pemerintah Jepang namun dalam gaya bahasa Indonesia. 
Bersambung.......................

Kamis, 10 Januari 2013

AWAL PERGERAKAN NASIONAL


TONGGAK SEJARAH PERGERAKAN NASIONAL
1. Latar belakang munculnya kongres pemuda
Sejak berdirinya Organisasi Budi Utomo, banyak pula berdiri organisasi pemuda pelajar, baik yang bersifat kedaerahan maupun nasional.  Pada tanggal 15 Agustus 1926 berdiri organisasi Jong Indonesia yang kemudian diubah namanya berdasarkan Kongres I menjadi Pemuda Indonesia (PI). Pemuda Indonesia (PI) dimaksudkan sebagai wadah pemuda indonesia yang berwatak kebangsaan tanpa membedakan asal usul, suku, dan agama. Begitu juga dengan semakin meningkatnya semangat nasionalisme para pelajar-pelajar di Jakarta dan Bandung yang juga mendirikan organisasi Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) pada bulan September 1926 dengan tujuan memperjuangkan Indonesia merdeka. Adapun tokoh-tokoh PPPI antara lain : Abdullah Sigit, Sugondo, Suwiryo, Mitro Reksodipuro, Muh. Yamin, A.K. Gani, Muh. Tamsil, Sunarko, Sumana, Amir Syrifudin. PPPI dan PI memberi inspirasi organisasi-organisasi pemuda untuk bersatu. Untuk mewujudkan semangat persatuan dalam wadah Nasionalisme Indonesia maka diadakan Kongres Pemuda yang dilaksanakan beberapa kali, antara lain :
A. Kongres Pemuda I
Para pelajar dan mahasiswa dari berbagai organisasi bergabung dalam satu wadah bersama, yaitu Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) yang didirikan pada tahun 1926. Untuk mewujudkan semangat persatuan dan kesatuan dalam wadah nasionalisme itu, mereka menyelenggarakan Kongres Pemuda I Di Jakarta pada tanggal 30 April-2 Mei 1926 dengan dipimpin oleh Moh. Tabrani dari Jong Java.
B. Kongres Pemuda II
Perkumpulan pemuda memegang peranan aktif dalam kongres ini, terutama dari perkumpulan PPPI dan Pemuda Indonesia. Seperti halnya PNI, Pemuda Indonesia berpaham kebangsaan indonesia yang radikal. Pemuda Indonesia adalah perkumpulan pemuda yang bersifat nasionalis dan meninggalkan sifat-sifat kedaerahannya. Sementara untuk PPPI adalah perkumpulan dari para mahasiswa Recht Schoolgeschar dan STOVIA. Para peserta Kongres II ini berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu seperti Jong Java, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Sumatranan Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, PPPI, Pemuda Kaum Betawi dll. Diantara mereka hadir pula dari kalangan Tionghoa sebagai pengamat yaitu Oey Kai Siang, John Lauw Tjoan Hok, dan Tjio Djien Kwie. Namun sampai sekarang masih belum diketahui latarbelakang pengutusan dari organisasi mereka. Sementara Kwee Thiamm Hong hadir sebagai wakil dari Jong Sumatrenan Bond. Diprakarsai oleh AR Baswedan pemuda keturunan Arab di Indonesia mengadakan kongres di Semarang dan mengumandangkan Sumpah Pemuda keturunan Arab. 
C. Tujuan dan Peserta Kongres
Tujuan diadakan kongres adalah untuk membentuk badan sentral, memajukan paham persatuan kebangsaan, dan mempererat hubungan diantara semua perkumpulan pemuda kebangsaan. Sementara untuk peserta kongres terdiri dari berbagai organisasi pelajar di Indonesia seperti Jong Java, Jong Sumatera Bond, Jong Ambon, Sekar Rukun, Jong Batak, Jong Minahasa, dan Jong Islameten Bond.

2. Lahirnya Sumpah Pemuda
Sumpah Pemuda merupakan bukti otentik bahwa pada tanggal 28 Oktober 1928 Bangsa Indonesia dilahirkan. Gagasan penyelenggaran Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia . Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat. Sehingga menghasilkan Sumpah Pemuda. Rumusan Sumpah Pemuda ditulis oleh Mohammad Yamin pada secarik kertas yang disodorkan kepada Soegondo ketika  Mr. Sunario tengah berpidato pada sesi terakhir kongres (sebagai utusan kepanduan) sambil berbisik kepada Soegondo: ik heb een eleganter formulering voor de resolutie (Saya mempunyai suatu formulasi yang lebih elegan untuk keputusan kongres ini).
Rapat pertama, Gedung Katholieke Jongenlingen Bond.
Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jonngenlingen Bond (KJB), Lapangan Banteng. Dalam sambutannya, Soegondo berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Mohammad Jamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum, adat, pendidikan, dan kemauan.
Rapat kedua, Gedung Oost-Java Bioscoop
Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, sependapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.
Rapat ketiga, Gedung Indonesiscche Clubgebouw.
Pada sesi berikutnya, Soenario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.
Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu “Indonesia Raya” karya Wage Rudolf Supratman. Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia, yang berbunyi: Pertama, kami poetera dan poeteri indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah indonesia. Kedoea, kami poetera dan poeteri indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa indonesia. Ketiga, kami poetera dan poeteri indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa indonesia.
Djakarta, 28 Oktober 1928
Teks Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 bertempat di Jalan Kramat Raya nomor 106 Jakarta Pusat yang sekarang menjadi Museum Sumpah Pemuda, pada waktu itu adalah milik  dari seorang Tionghoa yang bernama Sie Kong Liong. Sementara lagu Indonesia Raya pertama kali dipublikasikan pada tahun 1928 pada media cetak surat kabar Sin Po dengan mencantumkan teks yang menegaskan bahwa lagu Indonesia Raya adalah lagu kebangsaan. Lagu tersebut sempat dilarang oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, namun para pemuda tetap terus menyanyikannya.



3. Arti penting sumpah pemuda bagi bangsa Indonesia
Eksistensi pemuda dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sangatlah penting. Sumpah Pemuda merupakan suatu awal dari cita-cita untuk menyatukan organisasi para pemuda dalam satu forum. Dapat diartikan juga bahwa organisasi pemuda ini mencakup ruang lingkup yang luas yaitu Indonesia. Gagasan terbentuknya sumpah pemuda itu juga merupakan hasil dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) yang telah bersama mengikuti beberapa kali rapat yang diselenggarakan ditempat yang berbeda. Rapat pertama di gedung Katholieke Jongenlingen Bond, Rapat kedua di gedung Oost-Java Bioscoop dan rapat terakhir di gedung Indonesiscche Clubgebouw.
Dalam pembahasan rapat pertama dari sumpah pemuda tanggal 27 Oktober 1928 menetapkan ada lima faktor yang mampu meningkatkan atau memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, suku, hukum adat, pendidikan dan kemauan.
Dalam rapat kedua pada tanggal 28 Oktober 1928 juga menghasilkan pemikiran  bahwasanya seorang anak harus memperoleh pendidikan kebangsaan dan pendidikan itu harus diimbangi dengan pendidikan di sekolah. Karena kebanyakan anak akan berinteraksi dengan lingkungan sekitar tempat tinggal maupun di sekolah.
Sedangkan pada rapat ketiga, diputuskan bahwa sejak dini, anak harus dibekali rasa nasionlisme dan demokratis. Sehingga akan membentuk sikap disiplin dan mandiri dalam diri anak tersebut.
Selain itu, perlu kita ketahui rapat tersebut tidak hanya membahas tentang itu, tetapi juga membahas bagaimana cara mendorong semangat dalam mewujudkan cita-cita bangsa itu sendiri. Disini, kita harus sadar bahwa sebagai putera-puteri  Indonesia harus tetap bersatu untuk membangun suatu bangsa yang baik dan seorang pelajar harus mampu meningkatkan semangatnya dalam menggapai cita-cita bangsa. Sumpah pemuda merupakan sumpah atau janji yang diikrarkan oleh para pemuda di negeri ini. Sehingga mempunyai makna generasi bangsa Indonesia harus mengakui atas tanah air, bangsa dan bahasanya, mendorong semangat persatuan kebangsaan, mendorong semangat perjuangan untuk mencapai kemerdekaan serta pertumbuhan bahasa Indonesia sebagai salah satu identitas bangsa dan unsur kebudayaan bangsa.
 
 
Copyright © 2013-Kiamat. Wahyu's Blogs - All Rights Reserved
Design by Wahyu Adhy | Powered By Blogger.com