Tampilkan postingan dengan label Sosial Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial Budaya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Februari 2013

Ternyata di Indonesia juga ada Suku Kanibal


Pemakan daging manusia atau lebih sering disebut kanibal, banyak terdapat hampir diseluruh dunia pada zaman duluhingga memasuki abad ke 20. Sebut sajasuku Maori di Selandia Baru, suku Indian di kepulauan Karibia, suku Kulina di daerah Sungai Amazon Brazilia, yang kemungkinan besar masih ada sampai sekarang. Alasan mereka memakan sesama manusia adalah karena ritual, kebanggaan dan alasan kesehatan serta kekuatan. Dipercaya, ketika suku mereka menang dalam berperang, maka lawan yang tertangkap dan masih hidup kemudian mereka siangi / di kuliti hidup-hidup, kemudian dibakar atau di rebus, lalu mereka makan ramai-ramai dalam sebuah upacara ritual, sedangkan tengkorak kepalanya mereka taruh di sebuah tempat sebagai tanda kemenangan.
Lalu, bagaimanakah dengan suku-suku di Indonesia, adakah suku kanibal di bumi nusantara ini, jawabannya adalah ada. Berikut ini adalah beberapa suku di Indonesia yang melakukan praktek kanibalisme.


1. Suku Korowai di Papua.
Suku ini mendiami dataran rendah di sebelah selatan Papua, hidup di sepanjang aliran sungai dan rawa-rawa. Suku Korowai, seperti suku-suku di Papua kebanyakan, hidup nomaden atau berpindah-pindah serta mengandalkan hidupnya dari alam. Karena daerahnya yang cukup subur, menjadikan mereka harus sering berperang dengan suku lain. Dalam berperang, mereka kerap menggunakan racun pada anak panah dan mata tombak yang kebanyakan mereka buat dari tulang berulang. Kebiasaan mereka memakan daging manusia bukan secara sembarangan, tetapi karena korban kerap melakukan pelanggaran adat, kemudian ditangkap dan diadili, setelah diputuskan bersalah maka korban akan di ritualkan dan dimakan bersama-sama. Keberadaan mereka masih ada hingga saat ini.


2. Suku Tolai di Papua.

Walaupun sebagian besar dari mereka hidup di Papua New Guinea, tapi ada sebagian kecil yang hidup di perbatasan Papua wilayah Indonesia. Mereka diketahui melakukan kanibalisme ketika warga suku Tolai modern meminta maaf kepada pemerintah Papua New Guinea atas pembunuhan dan kanibalisme yang dilakukan oleh nenek moyang mereka kepada misionaris Inggris pada abad ke 19 dan pada tahun 1978 mereka membunuh menteri dan tiga orang guru dari negara Fiji, yang kemudian dimasak dan dimakan beramai-ramai.


3. Suku Dayak Punan.

Walaupun sebagian besar dari mereka sudah hidup secar modern, tapi berdasarkan cerita bahwa nenek moyang mereka dahulu tidak tabu untuk memakan daging manusia, sampai pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1970an melarang dengan turun langsung ke lapangan. Suku Dayak Punanhidup di daerah kalimanatan Barat, kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah, hidup di sepanjang aliran sungai dan sering berpindah-pindah. Dahulu mereka sangat jago dalam berperang dan selalu menebas kepala musuhnya, hingga dikenal istilah "Ngayau" atau"Head Hunter". Dari riset terkini, ternyata suku punan yang primitif masih ada dan terlihat di goa-goa pedalaman rimba hutan Kalimantan.

Itu adalah beberapa suku kanibal di Indonesia, walaupun menurut catatan sejarah, bahwa 75 persen suku di nusantara adalah kanibal pada zaman dulu, tetapi kini mereka telah punah atau meninggalkan kebiasaan lamanya, yaitu memakan daging manusia.

Selasa, 26 Februari 2013

"Herek" teman setia Petani


          Padi merupakan makanan pokok dari masyarakat Indonesia, begitu juga dengan masyarakat di kabupaten Pacitan. Luasnya lahan pertanian membuktikan bahwa sebagian besar masyarakatnya banyak yang terjun di bidang pertanian. Sama halnya dengan di Kecamatan Ngadirojo, Padi merupakan tumpuan ekonomi masyarakat. Jika sudah mulai musim tanam padi, maka banyak pekerja/buruh yang datang ke Kecamatan Ngadirojo. Kebiasaan memanen padi ini dinamakan “derep”. Karena bukan hanya satu lahan saja yang dipanen. Maka, mereka (para buruh) berbondong-bondong memanen padi mulai dari pagi sampai senja tiba. Akan tetapi yang unik disini adalah jika musim panen padi tiba. Hal yang unik tersebut adalah dari segi peralatan yang digunakan untuk memanen padi, yang saya rasa hanya dapat ditemukan di Kecamatan Ngadirojo saja. Peralatan tersebut  dinamakan “herek”.
 “Herek” ini adalah sejenis peralatan sederhana yang terbuat dari bahan baku kayu, seng, gear sepeda onthel, rante, dan roda paku. Lalu kenapa bisa dinamakan herek ?, penamaanyan sendiri berasal dari suara yang dihasilkan dari herek tersebut, yaitu jika diinjak pedalnya akan menghasilkan bunyi “reeg...reeg...reeg”, dari suara itulah masyarakat menyebutnya “herek”. Sedangkan cara kerjanya yaitu dengan diinjak bagian pedalnya, maka roda pakunya akan berputar dan padi pun siap dirontokkan dari batangnya. Pedalnya ini juga hanya terbuat dari batang bambu. Untuk itu, Memerlukan tenaga  kaki yang kuat, karena perputaranya harus cepat.Untuk mempermudah dan agar lebih cepat, biasanya dalam pengopersiannya herek membutuhkan dua orang pekerja, yang satu mengoperasikan herek dan satunya lagi membantu menyiapkan batang padi yang akan dirontokkan. Herek ini merupakan peralatan yang cukup praktis digunakan, dan hanya dapat ditemukan pada saat musim panen padi di Kecamatan Ngadirojo saja, karena saya melihat di Kecamatan-kecamatan lain cara merontokkan padi dengan batangnya masih sangat tradisional, yaitu dengan cara kalau istilah bahasa pacitannya “digepyok”.
            “Herek” sampai saat ini masih menjadi pilihan masyarakat di Kecamatan Ngadirojo sebagai peralatan untuk merontokkan padi yang praktis digunakan dan tidak membutuhkan biaya yang mahal untuk membuatnya, meskipun sudah ada mesin yang lebih canggih daripada herek, akan tetapi herek masih tetap bertahan sampai saat ini.

Senin, 11 Februari 2013

RINGGIT BEBER (WAYANG BEBER) PACITAN


Di Dusun Karang Talun, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan, Kedompol dan ikut masuk Kawedanan Punung. Ada seseorang yang bernama Gondo Lesono, kehdupannya sebagai dalang Ringgit Beber. Orang itu mempunyai Wayang Beber jumlahnya ada 6 lembar, lakonnya (cerita wayang beber tersebut), ialah Panji. Wujudnya wayang (ringgit) tersebut dibuat dari kertas jawa tebal dan halus, warnanya bagus sekali dilihat dari cat maupun bentuknya. Wayang Beber tersebut warisan dari leluhurnya atau turunan Gondo Lesono. Dan Gondo Lesono adalah turunan yang kedelapan. Adapun cerita Ringgit Beber atau Wayang Beber sebagai berikut :
            Ada seorang bernama Nolodremo. Pada waktu masih mudanya orang itu mengabdi dengan Tumenggung Butoijo yang ada di tanah Sembuyan. Pada suatu hari, Nolodremo ikut Kyai Tumenggung Butoijo, ada yang sakit dan sakitnya cukup lama, selalu diusahakan atau diupayakan dukun, pandito, wasi, namundemikian juga belum dapat sembuh, sang prabu sangat prihatin sekali mengenai sakit anaknya yang sudah cukup lama. Pada suatu hari Sang Prabu Browijoyo istirahat di Pendopo. Kyai Tumenggung Butoijo menghadap dan Nolodremo selalu mengikuti Tumenggung Butoijo, kebetulan Sang Prabu menyapa atau bertanya kepada Nolodremo, demikian kata-katanya : Hai Nolodremo, saya ini sedang kesusahan karena ada anak saya yang sakit belum sembuh. Sudah banyak dukun-dukun dan pandito-pandito yang  saya minta untuk menyembuhkan anak saya, tapi juga belum sembuh. Sudah banyak mantra, jamu yang dimasukkan namun juga belum sembuh. Maka coba tolong Nolodremo, anak saya itu diusadani atau disembuhkan supaya penyakitnya hilang dan akhirnya sembuh. Siapa tahu kalau kamu mungkin bisa. Walaupun Nolodremo sebenarnya bukan seorang dukun dan belum pernah menyembuhkan orang-orang sakit, tetapi karena permintaan sang prabu, Nolodremo menjawab sanggup. Ternyata putera Sang Prabu sembuh dari sakitnya itu, lantaran diusadani atau didukuni oleh Nolodremo atau didukuni oleh Nolodremo. Sang Prabu sangat senang sekali dengan Nolodremo, karena anaknya yang sakit cukup lama sekarang dapat sembuh. Akhirnya Nolodremo dianggap seperti abdi kedaton yang lebih dikasihi sendiri. Pada saat Kyai Tumenggung Butoijo pulang ke rumahnya, Nolodremo diminta oleh Sang Prabu Browijoyo tidak boleh pulang dan sementara disuruh tinggal di Kedaton. Selanjutnya di kedaton, Nolodremo di didik oleh Sang Prabu menjadi dalang menjalankan Ringgit Beber (Wayang Beber) dan Sang Prabu mencegah Nolodremo tidak boleh pulang apabila dia belum dapat mengerjakan sebagai dalang.
           Pada suatu saat Nolodremo sudah pandai mengerjakan cara-cara melakukan wayang beber atau disebut dalang, baru dia dapat pulang ke rumahnya. Selanjutnya Nolodremo diberi hadiah berupa wayang beber oleh Sang Prabu. Dan dikatakan oleh Sang Prabu tidak diberi emas, dan Rojobrono, karena Rojobrono maupun Emas mudah habis dan tidak aman jika dibawa dalam perjalanan. Tetapi diberi hadiah wayang beber dapat menghasilkan setiap saat dan juga dapat menyenangkan banyak orang. Hadiah tersebut merupakan rasa terima kasih Sang Prabu Browijoyo karena puteranya yang sakit dapat disembuhkan oleh Nolodremo. Dikatakan juga oleh Sang Prabu bahwa Nolodremo supaya mendidik dalang kepada anak-anaknya agar nantinya dan jangka panjangnya wayang beber tersebut masih tetap lestari, dan wasiat Sang Prabu melakukan wayang beber ini supaya benar-benar diajarkan sampai anak cucunya Nolodremo. Akhirnya selesai berbincang-bincang, Nolodremo terus pamit pulang. Dalam perjalanan Nolodremo kekurangan bekal, kemudian mbarang (ngamen) di Pedusunan melaksanakan pentas wayang beber dan mendapatkan imbalan uang (upah). Begitu seterusnya sampai datang di rumahnya, dia selalu diundang ke daerah-daerah lain acara khitanan, dan lain-lain. Sehingga dia dapat keuntungan yang banyak sekali. Setelah Nolodremo meninggal dunia terus diwariskan kepada anak laki-lakinya yang sulung demikian seterusnya secara turun temurun sehingga sampai sekarang. Adapun turunan Nolodremo yang mendapat warisan Ringgit Beber seperti tersebut di bawah ini :
1.      Nolodremo turunan ke-1
2.      Nolo turunan ke-2
3.      Samolo turunan ke-3
4.      Nolongso turunan ke-4
5.      Trunodongso turunan ke-5
6.      Gondolesono turunan ke-6
7.      Setrolesono turunan ke-7
8.      Gondolesono turunan ke-8
Gondolesono turunan ke-8 saat ini berumur kurang lebih 65 tahun. Dan cucunya sudah banyak. Kotaknya wayang beber itu lebarnya hanya satu kaki, panjangnya empat kaki, tingginya satu setengah kaki. Gawang untuk panggungpada saat digelar dibuat dari kayu, panjangnya kurang lebih satu setengah meter, tingginya setengah kaki. Dan bentuknya seperti panggung wayang Krucil. Iringan gamelan (tabuhannya) rebab, kethuk, kenong, kempul, serta kendang. Gendingnya hanya ayak-ayakan. Pada saat perang tabuhannya diperkeras, tetapi kalau sedang cerita tabuhannya hanya lamban saja. Pagelaran wayang beber waktunya hanya setengah hari saja. Misalnya mulai jam 8 pagi-jam 12 siang sudah selesai.
            Dari ceritanya Gondolesono. Ringgit, kotak, cempala, serta semua tetabuhan, semua pemberian dari Keraton Majapahit. Mulai menerima semua tersebut di atas dari Prabu Browijoyo sampai sekarang tidak ada yang diubah-ubah. Walaupun ada yang rusak, tapi masih merasa takut untuk memperbaikinya sebab khawatir kalau ada siku balaknya. Adapun keadaan tabuhan, apabila dibanding dengan dengan tetabuhan jaman sekarang memang sangat jelek, atau memang iramanya kurang baik dan tidak sesuai dengan sekarang. Gondolesono pernah apabila ada wayang yang rusak akan diperbaiki, meskipun tidak terlalu sulit, Gondolesono tetap yidak berani. Sebab Gondolesono mempunyai keyakinan bahwa semua wayang atau 1 unit tabuhan itu masih merupakan barang yang dianggap keramat, maka tetap takut dengan siku bilahinya.

Jhator, Penguburan Unik Ala Tibet


Kalau di sekitar kita, pemakaman pastinya sudah hal biasa jika hanya dikubur di dalam tanah atau dibakar/dikremasi. Tetapi lain lagi dengan pemakaman/penguburan yang ada di Tibet. Di Tibet, orang dalam mengubur mayat tidak dengan di kubur dalam tanah, akan tetapi lebih tragis dan lebih menyeramkan lagi. Tradisi penguburan mayat ini dikenal dengan sebutan Jhator atau Kuburan Langit.  Disini mayat tidak dikubur, tetapi diletakkan atau dibiarkan begitu saja di tempat terbuka di wilayah pegunungan, dengan maksud supaya mayat tersebut membusuk dengan sendirinya atau menjadi makanan Burung Nasar (burung pemakan bangkai). Bahkan untuk memudahkan burung-burung nasar itu memakan mayat, terlebih dahulu mayat tersebut dipotong-potong daging dan tulangnya, memang sungguh sadis dan tragis, tetapi hal seperti itu sudah menjadi adat dan tradisi di Tibet.
            Jhator kerap diadakan di pegunungan Tibet, dengan beralasan Agama dan dinilai lebih praktis meskipun sadis. Kebanyakan kepercayaan dari orang-orang Tibet adalah kepercayaan Agama Budha yang percaya akan adanya Reinkarnasi (kelahiran kembali). Sehingga setelah orang tersebut meninggal, maka tubuhnya sudah dianggap sebagi wadah kosong yang tak ada gunanya, sehingga perlu dibuang begitu saja. Semangat atau jiwa dari orang yang meninggal menurut kepercayaan sudah keluar dari tubuhnya dan akan ber inkarnasi pada kehidupan selanjutnya. Selain itu juga karena pengaruh faktor geografis dari wilayah Tibet yang berbatu dan minimnya kayu untuk pembakaran mayat, sehingga lebih memilih penguburan mayat secara Jhator ketimbang membakar mayat (kremasi).
            Ritual sperti ini memang sangat sadis dan menyeramkan bagi yang belum pernah melihat tradisi ini sebelumnya. Tetapi bagi umat Budha di Tibet, upacara Jhator ini merupakan wujud rasa belas kasihan terhadap orang yang sudah meninggal dunia dengan memberikan tubuhnya untuk dimakan makhluk lainnya. Rasa belas kasihan dan kepedulian terhadap makhluk hidup merupakn salah satu keutamaan dalam ajaran Buddhisme.
            Pemerintah RRC yang telah menguasai Tibet sejak tahun 1950 juga telah melarang ritual Jhator ini ditahun 1960-an, karena dianggap terlalu kejam dan sadis. Tetapi pada tahun 1980-an, ritual ini kembali diijinkan oleh pemerintah RRC. Biasanya selain warga Tibet, dilarang untuk menonton atau memotret ritual upacara ini, karena dianggap tidak sopan.
            Ritual Jhator biasa dilaksanakan di beberapa wilayah di Tibet, diantaranya adalah kota Lhasa. Sebuah tempat yang terletak di lereng pegunungan yang kondisi tanahnya berbatu. Sebelum dikubur, biasanya mayat dibersihkan dan dibungkus kain kafan. Setelah itu diletakkan di pojokan rumah selama tiga hari sampai lima hari. Selama itu, para biarawan memanjatkan doa-doa dan mantra-mantra untuk membebaskan jiwa si mayat. Setelah itu mayat baru dikirim ke tempat kuburan langit (Jhator). Kuburan ini bertempat di antara gunung-gunung, yang terdiri dari rerumputan dengan pagar yang tinggi dan sebuah candi pemujaan serta batuan besar. Drigung yang merupakan salah satu dari tiga kuburan Jhator yang paling penting. Meskipun begitu, ritual Jhator jarang dilaksanakan pada mayat yang meninggal dalam usia muda (kurang dari 18 tahun), wanita hamil, atau orang-orang yang mati karean kecelakaan atau kena Infeksi.
            Selanjutnya, seorang lelaki yang mengenakan celemek putih nampak di pekuburan langit dengan membawa pisau dan kapak di tangannya. Seseorang ini biasa disebut “daodeng” yaitu orang yang biasa melaksanakan prosesi ini. Daodeng lalu membuka kain mayat tersebut, dan mulai memotong-motong anggota tubuh si mayat, tidak ketinggalan untuk membakar dupa yang aromanya digunakan untu mengundang burung nasar. Tak lama kemudian Burung-Burung Nasar berdatangan dan dengan rakus memakan bangkai si mayat. Anggota keluarga dilarang menyaksikan ritual ini.
            Burung-burung ini hanya membutuhkan kurang lebih 13 menit untuk menghabiskan daging diseluruh tubuh si mayat. Selanjutnya, Daodeng mulai menindas tulang mayat tersebut dengan palu sampai hancur dan selanjutnya dicampur dengan tepung gandum yang disebut tsampa, yang akan digunakan sebagai makanan burung-burung yang berukuran lebih kecil, seperti burung Gagak dsb. Setengah jam setelah itu, kondisi mayat sudah benar-benar hancur dan musnah dari muka bumi. Tak berapa lama, suasana disekitar pegunungan tersebut kembali sunyi dan sepi.

Minggu, 03 Februari 2013

ANTHROPOLOGI : Sumber Air Kyai Wonopolo Di Dukuh Kapyuran


SUMBER AIR KYAI WONOPOLO DI DUKUH KAPYURAN Kyai Wonopolo adalah salah satu tokoh yang berpengaruh dalam Asal Usul dibukanya tanah di Ngadirojo, tepatnya di Kapyuran, Desa Wiyoro. Beliau adalah putera dari Kyai Ageng Klesem. Dia membuka tanah dengan membabad hutan dan menamakan tanah yang telah dibabadnya tadi dengan nama Desa Wiyoro. Akan tetapi pembukaan tanah yang dibabad itu mendapat teguran dari Nyai Wonopolo, dengan mengatakan bahwa padukuhan ini masih cacat, karena Nyai Wonopolo adalah seorang yang taat menjalankan sholat, tetapi mau ambil air wudlu saja tidak ada. Ada air tapi diatas gunung setiap hari harus naik turun gunung. Dan Nyai Wonopolo menjawab bahwa dia sudah tidak sanggup untuk menlakukan hal itu setiap hari (ambil air Wudlu Naik gunung). Akhirnya Kyai Wonopolo mengerti akan maksud dari si Nyai, lalu Kyai Wonopolo keluar rumah dengan membawa keris dan menusukkan keris tersebut ke sebuah batu besar hingga pecah dan keluar air yang sengaja dibuat seperti pancuran.

Sabtu, 19 Januari 2013

ANTHROPOLOGI : KONFLIK BUDAYA DI PEDESAAN

BUDAYA WESTERN YANG MUNCUL DI KALANGAN PEMUDA
    Era globalisasi memang sudah memberikan dampak yang cukup serius dan nyata di kalangan masyarakat. Tak luput juga sudah mulai masuk ke pelosok pedesaan, seperti yang terjadi di desa saya, yaitu Desa Cangkring, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan. Budaya mewarnai rambut di kalangan remaja, sudah membudaya di kalangan remaja. Parahnya lagi kebiasaan mewarnai rambut di kalangan pria remaja banyak didominasi dari para pelajar.  
           Mewarnai rambut dengan warna rambut yang tidak sesuai dengan warna sebenarnya menjadikan pandangan negatif di kalangan masyarakat yang dirasa kurang etis untuk diterapkan. Mereka dipandang sebagai remaja yang arogan. Akan tetapi, pandangan negatif itu dibantah oleh para pemuda, mereka mengatakan bahwa sekarang ini adalah jaman modernisasi, dan setiap orang bebas untuk melakukan apa saja. Jika tidak mengikuti perkembangan jaman dianggap orang yang “jadul”. Persepsi atau anggapan seperti itu memang kerap muncul di kalangan remaja. 
       Budaya mewarnai rambut memang identik dengan sikap yang arogan. Akan tetapi itu menurut pandangan orang-orang yang tidak paham atau terpengaruh dengan program-program yang tayang di televisi, misalnya sinetron yang memunculkan seorang anak remaja yang mewarnai rambutnya identik dengan peran yang buruk. Di desa saya, hal tersebut memang tidak dianggap serius, hanya dianggap kurang sopan jika dipertontonkan, apalagi kalau sedang ada hajatan besar, seperti pernikahan dll, terdapat pemuda yang mewarnai pasti langsung mendapat teguran dari teman lainnya yang lebih tua. Meskipun begitu, banyak pemuda yang tidak mempedulikan hal tersebut dan cuek saja. Karena yang seperti dikatakan di atas, bahwa ini adalah jamannya modernisasi dan globalisasi. Menyikapi hal tersebut, hendaknya memang harus bisa memfilter budaya-budaya asing yang masuk dan dinilai tidak mencerminkan budaya sendiri agar tidak menimbulakan konflik yang merugikan dan mendapat anggapan yang negatif bagi pelakunya.
 
 
Copyright © 2013-Kiamat. Wahyu's Blogs - All Rights Reserved
Design by Wahyu Adhy | Powered By Blogger.com